Wednesday, February 08, 2012

Menguak Rahasia Cendawan Penangkal Hama

HARI masih pagi. Yusmani Prayogo, 43, terlihat sibuk melakukan pengamatan terhadap serangga kepik cokelat di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang, Jawa Timur, Jumat (3/2).

Di ruang laboratorium itu terdapat sekitar 10 rumah kasa sebagai media penelitian. Semua tertata rapi di atas lemari. Dua rumah kasa lainnya berisi kepik cokelat. Berbagai macam serangga yang sudah dikeringkan juga terlihat di dalam wadah plastik.

"Rumah kasa ini menjadi media pengembangbiakan kepik cokelat atau Riptortus linearis," tegas Yusmani kepada Media Indonesia.

Menurut peneliti madya hama dan penyakit ini, kepik cokelat merupakan salah satu hama utama tanaman kedelai yang dapat menyebabkan kerugian hasil panen.

Hama pengganggu jenis itu memang bukan satu-satunya karena ada sejumlah hama lain pengisap polong yakni kepik hijau (Nezara viridula), kepik hijau pucat (Piezodorus hybneri), dan penggerek polong (Etiella spp).

Sebagai peneliti bidang patogen serangga (penyakit serangga), Yusmani memiliki ketertarikan besar terhadap cendawan entomopatogen. Ia mengeksplorasi setidaknya tujuh jenis cendawan yang berpotensi mampu membunuh serangga secara efektif. Cendawan itu adalah Lecanicillium lecanii dengan 45 isolat yang diperolehnya sejak 2005 dari berbagai daerah di Indonesia.

"Hasil pengujian di laboratorium dan di lapangan menyebutkan bahwa cendawan mampu membunuh telur hama secara efektif," ujarnya.

Koloni cendawan yang diteliti tersebut berwarna putih pucat dengan diameter berkisar 4,0-7,3 cm setelah 20 hari inokulasi pada media potato dextrose agar.

Koloni mampu tumbuh pada media yang berasal dari beras dan mudah berkembang secara baik pada suhu 15-30 derajat celsius. Pertumbuhan optimal terjadi pada suhu 25 derajat celsius dan kelembapan lebih dari 90%.

"Kelembapan yang tinggi berfungsi untuk perkecambahan konidia dan proses infeksi terhadap serangga inang. Konidia akan berkecambah lebih cepat pada suhu 20-25 derajat celsius," katanya.

Kepik vs cendawan

Setelah menyadari hasil positif itu, Yusmani mengembangbiakkan serangga di laboratorium Balitkabi dalam jumlah banyak untuk memenuhi ketersediaan secara terus-menerus, selain perbanyakan cendawan itu sendiri.

Namun, proses penelitian tidak berjalan mulus. Kendala mulai ditemui yakni jumlah serangga terkadang kurang mencukupi maupun virulensi cendawan yang kurang stabil.

"Segi ketersediaan serangga sangat berpengaruh terhadap kelangsungan penelitian karena untuk menyediakan jumlah serangga yang banyak harus dipelihara dengan jumlah pakan yang tersedia terus-menerus dalam jumlah cukup," imbuhnya sambil menunjukkan kepik cokelat di rumah kasa.

Kegiatan itu ditelateni Yusmani sejak tujuh tahun silam, termasuk melakukan survei persebaran kepik cokelat di sentra produksi kedelai di seluruh wilayah Indonesia. Tujuannya agar dapat menghasilkan biopestisida yang ramah lingkungan.

"Kepik cokelat mengindikasikan memiliki populasi dan daerah sebaran paling luas jika dibandingkan dengan hama lainnya," ujarnya.

Pestisida kimia

Selain itu, dijumpai permasalahan mendasar di tingkat petani bahwa teknologi pengendalian hama masih banyak menggunakan insektisida kimia. Kebiasaan tidak ramah lingkungan tersebut dianggap merugikan karena hasilnya tidak optimal, hanya berlangsung sesaat dan justru memicu timbulnya peledakan hama yang sulit dikendalikan.

Menggunakan insektisida kimia, lanjut Yusmani, berpotensi membunuh predator atau musuh alami hama utama tanaman kedelai. Dampak terparah adalah sering dilaporkan bahwa residu meracuni manusia, hewan ternak, serta mencemari sumber air dan lingkungan. Apalagi dapat menimbulkan berbagai penyakit kanker dalam rentang waktu yang lama.

"Kami mendorong praktik budi daya pertanian di masa sekarang dan mendatang harus bertumpu pada pertanian yang memedulikan kelestarian lingkungan," tegas Yusmani.

Meskipun setuju penggunaan insektisida kimia, Yusmani mengingatkan penggunaannya tetap harus terbatas pada kondisi gawat atau sangat diperlukan saja. Yakni ketika teknik pengelolaan hama sudah tidak mampu lagi menangkal kerusakan hama hingga di bawah ambang kendali.

Oleh karena itu, mengoptimalkan peran agen hayati melalui cendawan entomopatogen berpotensi sangat besar untuk dikembangkan sebagai solusi pertanian organik ramah lingkungan guna meningkatkan ekonomi petani.

Sulit berkembang

Kenyataannya sekarang, potensi pemanfaatan musuh alami tersebut sulit berkembang. Padahal keberadaannya di lapangan sangat berlimpah dan sudah dikenal sejak zaman Belanda.

Pasalnya, ahli patogen serangga di Indonesia dan pakar bidang tersebut dapat dihitung dengan jari.

Kenyataan itu semakin menyemangati alumni doktor bidang entomologi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang memaknainya sebagai peluang. "Lecanicillium lecanii merupakan biopestisida dari kelompok cendawan entomopatogen yang sudah dapat diaplikasikan secara besar-besaran untuk mengendalikan berbagai jenis hama dan penyakit," tuturnya.

Berdasarkan kajian ilmiah, lanjutnya, hasil survei di berbagai lokasi menunjukkan bahwa cendawan entomopatogen Lecanicillium lecanii dapat digunakan sebagai pengendali kepik cokelat.

Potensi pengembangannya pun terbuka lebar karena cendawan jenis itu memiliki kisaran inang cukup luas dan bersifat kosmopolit yang mudah dijumpai di daerah tropis dan subtropis.

Keunggulan

Secara alami, cendawan ini terbukti ampuh menginfeksi hama walang sangit yang menyerang tanaman jagung di Probolinggo, Jawa Timur, pada 2005 yang aplikasinya muncul secara tidak sengaja.

Saat itu, petani belum menyadari bahwa cendawan bisa digunakan sebagai pengendali hama. Tapi kasus yang ditemukan itu menjadi pengalaman berharga dan digunakan sebagai pintu masuk penelitian ini.

Cendawan yang diteliti Yusmani juga mampu mengendalikan jenis serangga inang meliputi beberapa ordo termasuk sejumlah serangga, di antaranya jenis belalang, kupu-kupu, kumbang, dan kutu kebul. Adapun efektivitas pengendalian dengan mortalitas mencapai 52%-100%.

Itu sebabnya bioinsektisida ini menjadi solusi menguntungkan bagi petani. Pasalnya, hama kutu kebul dan serangga pengganggu lainnya kerap menjadi momok dan meresahkan selama dua tahun terakhir.

"Serangga itu menjadi kendala utama bagi seluruh tanaman pangan maupun hortikultura," kata Yusmani.

Cendawan, lanjut dia, juga memiliki keunggulan mampu menginfeksi semua stadia kepik cokelat mulai telur, nimfa maupun imago. Meskipun nimfa mampu menetas, akhirnya gagal berganti kulit hingga akhirnya mati. Serangga-serangga mati akibat toksin yang dihasilkan oleh cendawan. "Efikasinya mencapai 80%," katanya.

Untuk mencegah serangan hama, Yusmani menyarankan penyemprotan tiga kali sehari. Pengendalian juga bisa dikombinasikan melalui predator.

Hasil penelitian ini telah didaftarkan Yusmani di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia untuk memperoleh hak paten. Ia optimistis produk yang dia hasilkan dari serangkaian penelitian ini--dinamai Bio-Lec--akan dapat menjadi solusi mengurangi populasi hama dan meningkatkan hasil pertanian tanpa meninggalkan residu pada produk maupun pada pencemaran lingkungan. (M-3)

BIODATA Penulis : Bagus Suryo

Tempat, tanggal lahir : Trenggalek, 3 Maret 1968

Profesi : Peneliti madya hama dan penyakit di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Jl Raya Kendalpayak Km 08, PO BOX 66 Malang

Pendidikan : - S-3 Entomologi Institut Pertanian (2009) - S-2 Entomologi Institut Pertanian Bogor (2004) - S-1 Agronomi Institut Pertanian Bogor (1994)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2012/02/08/296894/270/115/Menguak-Rahasia-Cendawan-Penangkal-Hama

Saturday, February 04, 2012

Semburat Mistis Cap Go Meh Singkawang

INDONESIA memiliki beragam budaya yang menarik yang tersebar di seluruh nusantara. Budaya-budaya ini hadir, karena adanya bermacam-macam etnis di negara kita.
Salah satu budaya yang menarik adalah perayaan Tahun Baru Imlek. Imlek merupakan perayaan terpenting bagi orang Tionghoa, yang dirayakan dengan berbagai macam perayaan seperti menyalakan kembang api, dan juga jamuan makan malam, serta dihiasi berbagai atraksi seperti barongsai dan juga liong.

Sebanyak 15 hari setelah tahun baru Imlek, kembali hadir sebuah perayaan yang tak kalah meriah, yaitu Cap Go Meh. Biasanya, festival Cap Go Meh dirayakan dengan menggelar festival lampion atau Festival Valentine, karena Cap Go Meh juga dikenal sebagai Valentine Tionghoa.

Di Singkawang, Kalimantan Barat, Festival Cap Go Meh dirayakan dengan nuansa yang berbeda, yaitu campuran antara Dayak dan Tionghoa.

Hal ini karena masyarakat pendatang etnis Tionghoa di Singkawang banyak yang menikah dengan warga pribumi, sehingga mencampurkan dua budaya menjadi satu kebudayaan yang unik namun tetap mempertahankan keunikan masing-masingnya.

Festival Cap Go Meh di Singkawang dirayakan dengan pertunjukan Tatung, yang merupakan media utama Cap Go Meh. Atraksi Tatung ini cukup mistis, karena banyak orang-orang yang kesurupan. Para pemain Tatung sendiri diwajibkan berpuasa selama tiga hari sebelum perayaan agar mereka berada dalam keadaan yang suci.

Atraksi Tatung ini juga kurang lebih mirip dengan atraksi debus di Banten.

Para pemain Tatung ini menginjak-injak pedang atau pisau, atau menancapkan kawat ke pipi, namun anehnya tidak ada yang terluka.

Perayaan Cap Go Meh dengan atraksi Tatung ini merupakan festival yang setiap tahunnya selalu ditunggu oleh masyarakat sekitar.

Festival ini juga menjadi daya tarik khusus daerah Singkawang, sehingga ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan juga mancanegara.

(rhs)

Sumber : http://travel.okezone.com/read/2011/11/18/408/531373/semburat-mistis-cap-go-meh-singkawang

Cap Go Meh 2563 di Pontianak dan Singkawang, Kalimantan Timur

Kalimantan Barat, akan merayakan Cap Go Meh yang jatuh pada 6 Februari 2012 melalui sebuah festival selama 3 hari. Festival ini akan berlangsung di dua kota, yaitu Pontianak dan Singkawang, pada 4-6 Februari 2012.
Perayaan yang menjadi acara multi etnis tersebut tidak hanya akan berfokus pada budaya etnis Cina, tetapi juga kelompok etnis lainnya termasuk juga Melayu, Dayak, Madura, Bugis, Batak, Jawa, dan Sunda. Munculnya tujuh naga di pusat kota Pontianak akan menjadi bagian dari pesta budaya tersebut.

Pada tanggal 4 Februari 2012, sebelum puncak perayaan Kuil Kwan Tie Bo, Pontianak akan mengadakan ritual pembukaan. Kemudian, pada 5 Februari, siang harinya, ketujuh naga akan memulai atraksinya bersama-sama dengan pertunjukan budaya dan kesenian lainnya dalam Festival Budaya Nusantara. Saat puncak perayaan, yaitu pada 6 Februari 2012, naga-naga akan melakukan parade dari Kuil di Jalan Diponegoro ke Jalan Gajah Mada dan Jalan Hijas, sebelumnya mereka juga akan melintasi Jalan Tanjungpura. Pada malam harinya, naga-naga tersebut akan tampil di Kapuas Pontianak Square.

Sementara itu, sebanyak 750 tatung akan berpartisipasi dan melakukan pawai melewati jalan-jalan utama Kota Singkawang. Sebuah parade lentera juga akan berlangsung di malam hari pada 5 Februari, sekitar pukul 19.30-23.00 WIT mulai dari kantor Walikota kemudian melalui beberapa jalan utama kota dan berakhir di Happy Building. Puncak festival dan seluruh sesi perayaan tahun baru akan dihelat pada 6 Februari dengan Parade Seni Kuno Tatung.

Tatung adalah media utama ritual Cap Go Meh untuk menolak roh-roh jahat. Selama ritual tatung, peserta yang akan masuk ke dalam atraksi kesurupan akan melakukan tindakan yang tidak biasa seperti menginjak pedang atau menusukkan kawat baja atau paku ke pipi mereka. Hal ini sangat luar biasa karena para peserta Tatung tidak terluka saat melakukan prosesi tersebut.

Tahun ini, lebih dari 750 peserta direncanakan akan ikut serta dalam ritual tersebut. Parade Tatung akan dimulai dari stadion Kridasana di Jalan Gusti Sulung Lelanang, lalu pindah ke Jalan Diponegoro, Jalan Niaga, Jalan Setia Budi, dan akan selesai di depan altar dekat patung naga di Jalan Niaga.

Cap Go Meh dirayakan setiap tahunnya pada hari ke-15 Tahun Cina. Secara harfiah, Cap Go Meh berarti sebagai malam ke-15 dimana bulan purnama pertama tahun ini terjadi. Perayaan Cap Go Meh biasanya beberapa daerah dimana terdapat populasi etnis Tionghoa seperti di Kalimantan Barat, Bangka-Belitung, Palembang, Semarang, Surabaya, Jakarta, Bandung, Manado, dan Medan rutin menggelar acara tersebut. Sebagai puncak dari seluruh Perayaan Tahun Baru Cina, acara ini benar-benar akan menjadi salah satu perayaan yang patut untuk Anda saksikan.

Untuk informasi lebih lanjut silakan Anda melihat tautan berikut ini:

http://tourism-pastikesingkawang.com/, http://disbudpar.kalbarprov.go.id/


Sumber : http://detik.travel/read/2012/01/31/141239/1830346/1049/cap-go-meh-2563-di-pontianak-dan-singkawang-kalimantan-timur

Perayaan Cap Go Meh dalam Legenda Kisah Cinta Siti Fatimah

Akhir pekan ini, merupakan puncak perayaan Cap Go Meh. Di Palembang, perayaan Cap Go Meh berlangsung di Pulau Kemaro. Lokasi ini sebenarnya sebuah delta yang terletak di tengah Sungai Musi.
Delta ini tak jauh dari lokasi Kuto Gawang, yang kini menjadi lokasi pabrik PT Pupuk Sriwidjaja. Kuto Gawang merupakan kota tempat berdiamnya pemerintahan Kerajaan Palembang. Bahkan diyakini pula sebagai kota di masa Kerajaan Sriwijaya.

Ada yang menarik dari pulau ini. Yakni tentang legenda percintaan Tan Bun An dengan Siti Fatimah, yang berlangsung di masa Kerajaan Sriwijaya. Di Pulau Kemaro ini, terdapat dua onggokan tanah, yang diyakini sebagai makam Siti Fatimah dan Tan Bun An.

Setiap kali perayaan Imlek dan Cap Go Meh, Pulau Kemaro selalu dijadikan pusat perayaan. Sebab selain terdapat makam Siti Fatimah, yang lokasinya berada di dalam Klenteng Hok Tjing Rio, juga terdapat sebuah kuil Buddha. Selama perayaan Imlek 2012 dan Cap Go Meh, Pulau Kemaro dihiasi sekitar 200 lampion.

Nah, kembali ke legenda itu. Berdasarkan berbagai sumber cerita yang didapatkan detikTravel, dulu kala di masa Kerajaan Sriwijaya, Palembang sebagai pusat pemerintahan terdapat sebuah perguruan tinggi agama Buddha, yakni Sjakhyakirti. Lalu salah satu pangeran dari Tiongkok, yang bernama Tan Bun An menuntut ilmu di perguruan tinggi tersebut.

Dalam proses belajarnya di Palembang, Tan Bun An mengenal seorang putri dari seorang pangeran Palembang yang beragama Islam. Namanya Siti Fatimah. Mereka pun jatuh cinta, dan sepakat menikah. Orangtua Siti Fatimah setuju, begitu pun dengan orangtua Tan Bun An. Tan Bun An kemudian mengirim seorang pengawalnya pulang ke Tiongkok untuk meminta emas kawin. Tentu saja permintaan ini disetujui orangtua Ta Bun An. Mereka pun mengirim keramik, guci, koin emas dan perak.

Agar tidak dicuri atau dirampok di tengah perjalanan, semua emas kawin itu diletakkan di dalam guci raksasa yang di atasnya diletakkan sayur-sayuran. Panglima maupun hulubalang yang membawa guci-guci itu sama sekali tidak tahu keberadaa emas kawin tersebut. Namun, saat kapal bersandar di pelabuhan Kuto Gawang, Tan Bun An terkejut, sebab tidak ada barang yang sesuai dengan permintaannya. Dia hanya menemukan puluhan guci berisi sayuran. Tan Bun An pun marah. Kesal. Dia menyangka kedua orangtuanya tidak setuju dirinya menikah dengan Siti Fatimah.

Sambil emosi dibuangnya guci-guci itu ke Sungai Musi. Tapi saat guci terakhir, guci kesembilan dibuangnya, guci itu terjatuh di tepi kapal, pecah, sebelum jatuh ke Sungai Musi. Lalu terlihatlah sejumlah benda berharga seperti yang dimintanya, seperti keramik, koin emas, dan koin perak. Tan Bun An terkejut melihat hal tersebut. Dia pun sangat menyesal. Diperintahnya panglima dan para hulubalang untuk mengambil kembali guci-guci yang sudah tenggelam ke Sungai Musi.

Sayang, guci itu tak ditemukan. Bahkan panglima dan para hulubalang tidak muncul lagi ke permukaan air. Tan Bun An memutuskan turut terjun ke Sungai Musi mencari guci-guci tersebut. Nasibnya pun sama. Dirinya tenggelam di Sungai Musi. Mendengar kabar itu, Siti Fatimah yang berada di rumah, menjadi sedih. Dia pun minta diantar dayang-dayangnya ke lokasi kejadian. Sungguh mengejutkan, di lokasi kejadian, Siti Fatimah tak dapat menahan rasa sedihnya, dia pun terjun ke Sungai Musi.

Tak lama kemudian, di lokasi kejadian muncul sebuah delta kecil yang di atasnya terdapat dua unggukan tanah, seperti kuburan atau makam. Masyarakat Palembang pun percaya bahwa dua unggukan tanah itu merupakan makam Tan Bun An dan Siti Fatimah. Sementara etnis Tionghoa, sejak saat itu sering berziarah ke delta tersebut, hingga ahirnya pada tahun 1962 di lokasi makam Tan Bun An dan Siti Fatimah dibangun Klenteng Hok Tjing Rio.

Namun, keberadan Pulau Kemaro ini memang memiliki banyak sejarah. Disebutkan, di lokasi itu didirikan sebuah benteng oleh Kesultanan Palembang Darussalam, untuk menghadang para tentara VOC yang ingin menyerang Palembang. Selain itu, seusai Peritiwa 30 September 1965, di lokasi tersebut didirikan sebuah camp untuk menampung tahanan anggota PKI dan simpatisannya.

Kini, sejak tiga tahun terakhir, para pemburu benda beharga di Sungai Musi, selalu menyelam di sekitar Pulau Kemaro. Mereka percaya legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah itu ada benarnya, sehingga mereka berharap menemukan benda-benda berharga yang terbuang di Sungai Musi tersebut.

Taufik Wijaya-detikNews


Sumber : http://detik.travel/read/2012/02/03/190851/1833906/1025/perayaan-cap-go-meh-dalam-legenda-kisah-cinta-siti-fatimah?vt22011024

Kirim Ciuman dengan Gadget Ini

INILAH.COM, Washington – Peneliti kepandaian buatan (AI) Hooman Samani berupaya membuat hubungan jarak jauh menjadi mudah. Ia melakukannya dengan gadget pengirim ciuman ini. Ingin tahu?
Tim ilmuwan dari National University of Singapore menyebut gadget ini ‘Kissenger’. Gadget ini berupa bibir berbentuk babi atau sapi yang bisa disambungkan ke komputer melalui kabel USB sembari melakukan Skype dengan pasangan di seluruh dunia.

Pengguna cukup mencium perangkat ini dan pasangan juga melakukannya. Bibir dari perangkat ini akan mencium Anda dan memberi rasa yang sama seperti saat mencium manusia.

“Ciuman merupakan cara komunikasi penting bagi manusia,” katanya seperti dikutip HuffPost.

Sebelumnya, Samani melengkapi robot-robot buatannya dengan versi hormon manusia seperti oxytosin, dopamine, seratonin, dan endorfinyang mampu ‘bertambah atau berkurang tergantung kondisi cinta’.

Ini dia videonya. Bagaimana menurut Anda? [mor]

Sumber : http://teknologi.inilah.com/read/detail/1826144/kirim-ciuman-dengan-gadget-ini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCPenney Coupons